,

Kecerdasan itu Tidak Didapat dari Sekolah. Benarkah?

children reading together outdoors on picnic

Membahas ini, saya jadi teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu. Masih berkaitan dengan presiden, tapi periode sebelumnya.

Bapak Joko Widodo

Beliau Bapak Joko Widodo yang kala itu menjabat sebagai Presiden Indonesia membagikan postingan di X (sebelumnya 1Twitter)

Beliau menyampaikan:

Setop perang. Perang itu menyengsarakan umat manusia, dan membahayakan dunia.

Lalu netizen membanjiri komentar terkait dengan kata “setop” di dalamnya. Mereka beranggapan bahwa ada kesalahan penulisan di sana.

Ternyata, setelah ditelaah kembali, di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “setop” adalah kata serapan. Kata yang artinya “berhenti” itu diserap dari Bahasa Inggris stop. Penulis dalam Bahasa Indonesianya adalah setop.

Bapak Prabowo

Menuju ke arah yang sama, secara kebahasaan menurut saya perlu dikaji ulang terhadap apa yang disampaikan Bapak Prabowo dalam pidato singkatnya pada acara peluncuran buku “10 Karya Setengah Abad Bahlil Lahadalia” di Djakarta Theater, Jakarta Pusat.

Dalam unggahan di beberapa akun Instagram, YouTube, dan Tiktok, beliau menyampaikan:

Jadi, tadi keberanian, kecerdasan. Dan kecerdasan itu bukan dari sekolah menurut saya. Kecerdasan bukan dari sekolah. Dan ini sudah kita buktikan berkali-kali. Hari ini sekarang kita buktikan lagi, Pak Bahlil. Saya kira sekolahnya enggak terlalu terkenal Pak Bahlil. Kalau dicari di Google kampusnya sudah nggak ada. Ya, dan itu sudah kita buktikan di mana-mana ya. Tidak menjamin sekolahnya di mana.

Maka menurut saya perlulah kita kaji kembali terkait dengan kata “cerdas,” kata dasar dari kecerdasan.

Miracle: Letters to the President

Saya juga teringat film korea berjudul Miracle: Letters to the President, tentang seorang gadis yang mengenal teman laki-laki sekelasnya biasa saja namun ternyata tidak.

Di sana, ada adegan di mana si gadis (diperankan oleh Lim Yoona) sedang menceritakan “kecerdasan” teman laki-lakinya (diperankan oleh Park Jeong-min) itu kepada sahabatnya. Beberapa bukti ia berikan untuk mendukung pernyataan itu;

Menepuk Pundak

Si gadis menepuk pundak kanan, dan memasang jari di sebelah kanan temannya itu agar pipinya tertusuk jari. Namun laki-laki itu menoleh ke arah kiri.

Menunjukkan Kuku

Lalu si gadis meminta agar laki-laki itu memperlihatkan telapak tangannya. Setelah itu memintanya lagi untuk menunjukkan kukunya.

Bagi kebanyakan orang, pasti akan membalikkan telapak tangan. Namun tidak dengan laki-laki itu. Untuk memperlihatkan kuku, ia menekuk jari-jarinya.

Bidang Tekan

Selain itu, yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah tentang daya tekan. Semakin sempit bidang tekan, semakin besar daya tekannya.

Hal itu saya dengar dari teman ketika masih SMP. Kami sering bermain Mini 4WD yang waktu itu benar-benar digandrungi oleh anak-anak.

Plat kuningan yang digunakan untuk menekan baterai di dalam Mini 4WD ia bengkokkan.

Sehingga bukan permukaan plat yang menempel pada baterai, tetapi ujungnya yang tipis. Katanya, ini agar energi dari baterai terserap dengan optimal.

Ketiganya ini, menurut saya adalah kecerdasan. Menghadapi masalah sederhana dengan cara simpel tapi powerful.

Cerdas tidak sama dengan Pintar

Dari yang saya baca pada situs SMK Galileo, bahwa cerdas itu berbeda dengan pintar.

Pintar adalah kemampuan menyerap, menghafal, dan menguasai ilmu atau informasi lewat belajar.

Cerdas adalah kapasitas mental bawaan untuk menggunakan logika, memahami pola, dan memecahkan masalah secara fleksibel, bahkan tanpa rumus baku. Orang pintar hebat di ujian, orang cerdas lihai atasi situasi baru.

Selengkapnya bisa baca di sini: PERBEDAAN ANTARA CERDAS DAN PINTAR SKALA AKADEMIK.

Yang saya sampaikan sebelumnya tentang kecerdasan, itu penerapan dari memecahkan masalah secara fleksibel, tanpa rumus baku.

Dan di sekolah kebanyakan itu diajarkan dengan “rumus baku”. Terutama sekolah di negara kita, belum mengarah ke bagaimana membangun paradigma siswa bahwa belajar itu merupakan kebutuhan dasar.

Pada akhirnya, saya setuju dengan pendapat beliau Bapak Prabowo dari segi kebahasaan. Bahwa kecerdasan tidak didapat dari sekolah, namun lingkungan yang saling bersinergilah yang bisa membentuk kecerdasan tersebut, terutama lingkungan keluarga.