Saya sedang memulai mencatat insight yang didapat dari podcast yang selesai saya tonton. Selain dari konten, saya juga mendapatkan insight dari komentar-komentar yang para viewer.
Hari ini, saya selesai menonton podcast MALAKA CINEMATIC PODCAST : PODCAST PERTAMA BRYAN FURRAN.
For Your Information, Malaka Project didirikan oleh Ferry Irwandi, Cania Citta, Dea Anugrah, Jerome Polin, Coki Pardede, Fathia Izzati, Rizky Arif Dwi Prakoso, Angellie Nabilla, dan Aurelia Vizal. Mereka yakin bahwa pendidikan berkualitas yang mudah diakses akan menciptakan “Masyarakat Baru”. Suatu masyarakat yang cerdas, kritis, empatik, dan mampu menggagas perubahan sosial bersama-sama.
Selengkapnya orang-orang pendiri Malaka Project:
- Ferry Irwandi
- Cania Citta
- Dea Anugrah
- Jerome Polin
- Coki Pardede
- Fathia Izzati
- Rizky Arif Dwi Prakoso
- Angellie Nabilla
- Aurelia Vizal
Dan di podcast ini, Cania Citta dan Ferry Irwandi kedatangan tamu Bryan Furran dan Axel.
Guest Stars
Bryan Furran
Saya sudah lama subscribe dan mengikuti video-video Bryan Furran di YouTube. Mungkin ini motivasi utama saya nonton podcast ini. Bryan Furran punya konten yang atentik, dan belum saya temui kreator lain yang membuat konten serupa. Acting yang benar-benar epic di setiap videonya ternyata diproduksi dalam waktu yang lumayan panjang.
Axel
Beberapa hari yang lalu saya lihat postingan tentang Bryan Furran dan Axel live streaming bersama. Saya menontonnya hanya beberapa menit saja, dan kurang tertarik dengan kontennya. Hari ini, Bryan Furran dan Axel muncul di beranda YouTube. Mungkin ini motivasi kedua untuk menonton podcast ini. Rasa penasaran dan ingin tahu, apa sebenarnya yang sedang terjadi antara seorang Bryan Furran dengan Axel.
Saya setuju dengan pendapat salah seorang viewer bahwa Cania, Bryan Furran, dan Ferry terlihat nyambung.

Untuk Axel, saya tidak terlalu mengenal seperti apa dia terutama konten-konten di channel YouTube-nya.
The Insight
Video ini panjang, ada beberapa insight di dalamnya tapi yang mau saya highlight adalah currency (mata uang).
Sistem barter menjadi uang
Berkaitan dengan mata uang, saya jadi teringat dengan pelajaran Ekonomi ketika SMP dulu. Di sana ada pembahasan tentang asal-muasal uang. Orang-orang sebelum ada mata uang bertransaksi secara barter; tukar-menukar barang.
Kegiatan ini dirasa cocok untuk saling memenuhi kebutuhan mereka yang saling barter. A punya ubi dan butuh beras, sedangkan B punya beras dan butuh ubi. Terjadilah barter antara A dan B.
Namun, semakin kompleks kebutuhan manusia semakin kecil pula peluang untuk menemukan orang yang bisa diajak barter. Entah itu barang yang dibarter tidak cocok, atau jumlahnya yang kurang sepadan.
Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations (1776) ada pembahasan tentang perubahan sistem barter menjadi uang. Uang lahir secara alami karena manusia memiliki sifat dasar untuk “suka berdagang dan bertukar.” Ketika barter menemui jalan buntu, masyarakat bersepakat memilih satu komoditas khusus yang paling diminati untuk dijadikan alat tukar umum.
Aristoteles pun pernah menjelaskan dalam bukunya Politica bahwa kesulitan membawa barang berat dan ketidakcocokan nilai tukar mendorong masyarakat menggunakan logam seperti besi atau perak yang diberi ukuran dan cap resmi.
Peralihan barter menjadi uang
- Uang Barang (Komoditas): Masyarakat mulai memakai benda yang banyak dicari seperti garam, kulit hewan, atau kerang.
- Uang Logam: Emas dan perak dipilih karena tahan lama, tidak mudah rusak, dan mudah dibawa.
- Uang Kertas dan Digital: Logam mulia digantikan kertas jaminan hingga sistem pembayaran digital masa kini.
Makna Currency (mata uang) lebih luas
Di podcast ini, currency menjadi pembahasan yang menurut saya menarik. Mata uang bukan hanya nilai tukar, tetapi maknanya meluas. Orang-orang memiliki mata uang mereka sendiri, yaitu hal berharga yang didapatkan setelah melakukan sesuatu. Hal yang ia lakukan, ditebus dengan mata uang yang mereka tentukan sendiri tanpa mereka sadari.
Rasa senang
Misalnya, ada orang melakukan suatu hal hanya untuk merasa senang saja. Tidak ada imbalan uang atau imbalan materi lainnya. Dia akan merasa senang karena bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Kalaupun ada imbalan, mungkin tidak sebanding dengan apa yang dia lakukan. Mata uang orang-orang seperti ini adalah rasa senang.
Materi
Ada orang yang tidak mau melakukan suatu hal karena dirasa tidak ada imbalan berupa materi, entah itu uang, benda, atau hal lain yang berkaitan dengan harta benda. Orang-orang seperti ini selalu memperhitungkan keuntungan dan kerugian yang akan didapat sebelum melakukan suatu hal. Tentu, mata uangnya adalah materi.
Persona
Tipe orang seperti ini selalu saja memiliki “persona” atau orang yang dikagumi. Dia mungkin hanya perlu satu alasan untuk mengagumi seseorang. Rasa kagumnya lebih besar ketimbang pendapat orang lain yang sudah lama mengenalnya. Dia akan mengesampingkan hal-hal negatif yang mengganggu pandangan yang membentuk rasa kagumnya itu dan ingin membuktikannya atau melihatnya secara langsung.
Mata uang orang seperti ini adalah persona. Dia akan senang melakukan apa saja, bertemu dalam rapat singkat, atau sekadar bertegur sapa asalkan bertemu dengan orang yang dia kagumi.
Tugas-tugas berat pun, akan ia lakukan dengan senang hati jika bersama dengan orang yang dia kagumi.
Dan menurut saya, kagum itu berbeda dengan “suka”. Kagum lebih pada rasa menghormati. Jangan sampai orang yang dikagumi merasa kecewa. Terlebih jika kekecewaan itu berasal dari orang yang mengagumi.
Konklusi
Rasa senang bisa bermanfaat, harta benda, dan persona tentunya tidak melekat masing-masing pada setiap orang. Kadang ada yang ketiganya, atau lebih dominan salah satunya.
Tulisan ini sudah terbengkalai beberapa minggu sebagai draft. Mumpung free, saya selesaikan hari ini. Nah, kamu bisa tebak atau tidak, currency mana yang akan saya dapatkan dengan terbitnya tulisan ini?
